Kamis, 23 Juni 2011

Lembaga Keuangan Syariah

Baitul Mal Wat Tamwil



Disusun oleh :

Agus faisal

KEUANGAN ISLAM

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2011

PENDAHULUAN

Berawal dari berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) menjadi salah satu peluang untuk mendirikan bank-bank yang berprinsip syariah di Indonesia. Operasinalisasi BMI kurang menjangkau usaha masyrakat kecil dan menengah, maka muncul usaha untuk mendirikan bank dan lembaga keuangan mikro, seperti BPR syariah dan BMT yang bertujuan untuk mengatasi hambatan operasioanal daerah.

Disamping itu di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang hidup serba berkecukupan muncul kekhawatiran akan timbulnya pengikisan akidah. Pengikisan akidah ini bukan hanya dipengaruhi oleh aspek syiar Islam tetapi juga dipengaruhi oleh lemahnya ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu peran BMT agar mampu lebih aktif dalam memperbaiki kondisi tersebut.

BMT direkayasa menjadi lembaga solidaritas sekaligus lembaga ekonomi rakyat kecil untuk bersaing di pasar bebas. BMT berupaya mengkombinasikan unsur-unsur iman, takwa, uang, materi secara optimum sehingga diperoleh efisien dan produktifdan demikian membantu para anggotanya untuk dapat bersaing secara efektif. Semakin besar nilai tambah baru yang dapat diciptakan semakin besar dana yang dapat disalurkan kepada sayap solidaritas dan semakin cepat teratasi kemiskinan di sekitar lokasi BMT.

Pertumbuhan ekonomi terkait langsung dalam skala mikro dengan upaya mengatasi kemiskinan materi dan kemiskinan non materi baik melalui kegiatan yang sangat padat karya maupun melalui hasil-hasil yang diperoleh. Sesuai namanya, maka semua kegiatan ini diorganisasikan dan dilaksanakan oleh masyarakat setempat secara mandiri. Diharapkan dan diupayakan BMT dapat berdiri dalam jumlah yang lebih banyak dan besar di seluruh pelosok tanah air.

Pada akhir oktober 1995 di seluruh Indonesia telah berdiri lebih dari 300 Baitul Maal Wa Tamwil, yang dalam istilah Indonesia dinamakan dengan Balai Usaha Mandiri Terpadu (disingkat BMT), dan masing-masing BMT melayani 100-150 pengusaha kecil bawah.

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Dalam bahasa Arab BMT merupakan singkatan dari Baitul Mal Wat Tanwil, yang artinya ”rumah zakat dan rumah harta”. Dengan demikian, BMT bergerak dalam 2 bidang usaha utama yaitu sebagai Baitul Mal dan Baitul Tanwil. BMT menyelenggarakan fungsinya sebagai Baitul Mal dengan menyalurkan amanah Zakat, Infaq dan Sodakoh (ZIS), sedangkan BMT sebagai sebagai Baitul Tanwil melakukan usaha simpan-pinjam dan usaha di sektor riil. Dengan demikian, BMT merupakan suatu lembaga yang menyelenggarakan kegiatan di bidang sosial non profit (ZIS) dan menyelenggarakan usaha profit (keuntungan). Usaha profit yang dilakukan oleh BMT adalah menerapkan sistem bagi hasil, sesuai dengan Syariat Agama Islam. Jadi, di dalam BMT tidak ada istilah ”bunga”.

B. Status dan Badan Hukum

BMT adalah sebuah organisasi informal dalam bentuk kelompok simpan pinjam (KSP) atau kelompok swadaya masyarakat (KSM). Secara prinsip BMT memiliki system operasi yang tidak jauh berbeda dengan system operasi Bank syariah pada umumnya. Namun ruang lingkup dan produk yang dihasilkan yang berbeda.

Berkenaan dengan itu, badan hukum yang dapat disandang oleh BMT (berkembang sampai dengan) sebagai:

ü Koperasi Serba Usaha atau Kopersai Simpan Pinjam

ü KSM (Kelompo Swadaya Masyarakat) atau Prakoperasi Dalam Program PHBK-BI (Proyek Hubungan Bank dengan KSM: kelompok Swadaya Masyarakat Bank Indonesia) BI memberikan izin kepada LPSM (Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat) tertentu untuk membina KSM.

ü LPSM itu memnerukan sertifikat pada KSM (dalam hal ini Baitutamwil) untuk beroperasi KSM disebut juga sebagai prakoperasi.

ü MUI, ICMI, BMI telah manyiapkan LPSM bernama PINBUK yang dalam kepengurusannya mengikutsertakan unsure-unsur DMI, IPHI, pejabat tinggi Negara yang terkait, BUMN, dan lain-lain.

C. Ciri-ciri Baitul maal wa tamwil

Sebagai lembaga keuangan informal, BMT memiliki cirri-ciri sebagai berikut:

ü Modal lebih kurang Rp. 5 s.d Rp. 10 juta yang berasal dari beberapa orang, yayasan, bazis, beranggotakan sekurang-kurangnya 7 orang, sedang jumlah yang sebaiknya adalah 20-24 orang agar BMT menjadi milik masyarakat setempat.

ü Berorientasi bisnis dan mencari laba bersama

ü Memberikan pembiayaan kepada anggota relative lebih kecil, tergantung perkembangan besarnya modal.

ü Bukan lembaga sosial tetapi dapat dimanfaatkan untuk mengefektifkan penggunaan zakat, infak dan shadaqah dari Bazis.

ü Calaon pengelaola atau manajer dipilih yang beraqidah, komitmen tinggi pada pengembangan ekonomi umat, amanah, dan jujur, jika mungkin minimal lulusan D3, S1.

ü Dalam operasi mengiatkan dan menjemput berbagai jenis simpanan mudharabah, demikian pula terhadap nasabah pembiayaan, tidak hanya menunggu.

ü Manajeman professional dan Islami :

§ Administrasi pembukuan dan prosedur perbankan.

§ Aktif, menjemput, berprakarsa.

§ Berprilaku ahsanu ‘amala: service excellent.

D. Beberapa Fungsi BMT

1. Penghimpun dan penyalur dana, dengan menyimpan uang di BMT, uang tersebut dapat ditingkatkan utilitasnya, sehingga timbul unit surplus (pihak yang memiliki dana berlebih) dan unit defisit (pihak yang kekurangan dana).

2. Pencipta dan pemberi likuiditas, dapat menciptakan alat pembayaran yang sah yang mampu memberikan kemampuan untuk memenuhi kewajiban suatu lembaga/perorangan.

3. Sumber pendapatan, BMT dapat menciptakan lapangan kerja dan memberi pendapatan kepada para pegawainya.

4. Pemberi informasi, memberi informasi kepada masyarakat mengenai risiko keuntungan dan peluang yang ada pada lembaga tersebut.

E. Struktur Organisasi BMT

Struktur BMT sebaiknya dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat menunjukan adanya kewenangan, pertanggung jawaban dan keamanahan. Struktur organisasi merupakan media untuk melancarkan kerja atau usaha organisasi.

Struktur minimal untuk BMT yang baru, minimal terdiri dari :

Ø Musyawarah Anggota Tahunan sebagai struktur tertinggi

Ø Dewan Pengurus Koperasi BMT, merupakan wakil dari anggota dalam melaksanakan hasil keputusan musyawarah tahunan untuk kepentingan BMT.

Ø Dewan Pengawas syariah dan Manajemen ( dapat juga dipisah)

Ø Pengelola BMT terdiri dari Manajer, Marketing, Bagian Pembukuan (accounting) dan kasir (teller).

Struktur Organisasi BMT tahap awal




Pada tahap awal, untuk efeltivitas tim pengelola dan manajer dapat ditunjuk dan ditetapkan langsung oleh dewann pengurus harian. Untuk efektivitas, manajer BMT mempunyai tugas mengendalikan seluruh operasional maupun marketing sekaligus melaksanakan pekerjaan sebagai marketing dibantu oleh seorang tenaga marketing. Bagian operasional dapat dirangkap oleh satu orang untuk menengani pembukuan. Teller, customer service serta administrasi. Tenaga bagian Marketting secara khusus bertugas menangani fungsi sebagai account officer dan funding officer.

Musyawarah/Rapat Anggota Tahunan

Di bawah ini merupakan gambaran organisasi BMT tahap pengembangan :






F. Produk-produk BMT

Secara fungsional, operasi BMT adalah hampir sama dengan Bank Syariah pada umumnya. Yang membedakan hanyalah pada sisi lingkup dan struktur. Dilihat dari fungsi pokok operasional BMT, ada dua fungsi pokok dalam kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat. Kedua fungsi tersebut adalah:

Ø Fungsi Pengumpulan Dana (Funding)

Ø Fungsi Penyaluran Dana (Financing/landing)

Dari kedua fungsi tersebut, sebagai lembaga keuangan Islam, baik itu BMI, Bank-bank syariah, maupun BMT memiliki dua jenis dana yang dapat menunjang kegiatan operasinya, yaitu:

Ø Dana Bisnis

Ø Dana Ibadah

Dana bisnis sebagai input dana dapat ditarik kembali oleh pemiliknya. Tetapi dana ibadah sebagai input dana tidak dapat ditarik kembali oleh yang beramal, kecuali dana input dana ibadah untuk pinjaman.

Sesuai dengan fungsi dan jenis dana yang dapat dikelola oleh BMT tersebut diatas, selanjutnya melahirkan berbagai jenis macam produk pengumpulan dan penyaluran dana oleh BMT. Gamabaran ringkas mengenai produk-produk BMT:

Produk Pengumpulan Dana BMT

Pelayanan jasa simpanan berupa simpanan yang diselengarakan oleh BMT adalah bentuk simpanan yang terikat dan tidak terikat atas jangka waktu dan syarat-syarat tertentu dalam penyertaan dan penarikannya. Berkaitan dengan itu jenis simpanan yang dapat dikumpulkan oleh BMT adalah sangat beragam sesuai dengan kebutuhandan kemudahan yang dimiliki simpanan tersebut.

Adapun akad yang mendasari berlakunya simpanan di BMT adalah akad wadiah dan mudharabah:

a) Simpanan Wadiah, adalah simpanan/titipan yang setiap waktu dapat ditarik. Simpanan wadiah dikenakan biaya administrasi namun oleh karena dana dititipkan diperkenankan untuk diputar maka oleh BMT kepada penyimpan dana dapat diberikan semacam bonus atau bagi hasil sesuai dengan jumlah dana yang ikut berperan didalam pembentukan laba BMT. Simpanan wadiah ada dua macam yaitu : wadiah yad amanah dan wadiah yad dhamanah.

b) Simpanan Mudharabah, adalah simpanan pemilik dana yang penyetorannya dan penarikannya dapat dilakukan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Pada simpanan mudharabah tidak diberikan bunga sebagai pembentukan laba bagi BMT tetapi diberikan bagi hasil. Variasi jenis simpanan yang berakad mudharabah dapat dikembangkan kedalam berbagai variasi simpanan, seperti:

Ø Simpanan Idul Fitri

Ø Simpanan Idul Qurban

Ø Simpanan Haji

Ø Simpanan Pendidikan

Ø Simpanan Kesehatan, dll

Selain kedua jenis simpanan tersebut, BMT juga mengelola dana ibadah seperti Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS), yang dalam hal ini BMT dapat berfungsi sebagai amil.

Produk Penyaluran Dana

BMT bukan sekedar lembaga keuangan non Bank yang bersifat social. Namun, BMT juga sebagai lembaga bisnis dalam rangka memperbaiki perekonomian umat. Sesuai dengan itu, maka dana yang dikumpulkan dari anggota harus disalurkan dalam bentuk pinjaman kedalam anggotanya.

Pinjaman dana kepada anggotanya disebut juga dengan pembiayaan. Pembiayaan adalah suatu fasilitas yang diberikan BMT kepada anggotanya untuk menggunakan dana yang telah dikumpulkan oleh BMT dari anggotanya.

Orientasi pembiayaan yang diberikan BMT adalah untuk mengembangkan dan atau meningkatkan pendapatan anggota dan BMT. Sasaran pembiayaan ini adalah semua sektor ekonomi yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariah (halal) seperti pertanian, perdagangan, Industri rumah tangga dan jasa.

Ada beberapa jenis pembiayaan yang dikembankan oleh BMT, yang kesemua itu mengacu pada dua jenis akad, yaitu:

Ø Akad Syirkah

Ø Akad Jual Beli

Dari kedua akad ini dikembankan sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki oleh BMT dan anggotanya diantara pembiayaan yang telah umum dikembankan oleh BMT maupun lembaga keuangan Islami alainnya adalah:

1) Pembiayaan Bai’u Bithaman Ajil (BBA). Pembiayaan berakad jual beli. Adalah suatu perjanjian yang disepakati oleh kedua belah pihak. Dimana BMT menyediakan dana untuk sebuah investasi dan atau pembeli barang modal dan usaha anggotanya yang kemudian proses pembayarannya dilakukan secara mencicil atau angsuran. Jumlah kewajiban yang harus dibayarkan oleh peminjam adalah jumlah atas harga barang modal mark-up yang disepakati.

2) Pembiayaan Murabahah (MBA). Pembiayaan berakad jual beli. Pembiayaan murabahah pada dasarnya merupakan kesepakatan antara BMT sebagai pemberi modal dan angota sebagai peminjam. Prinsip yang digunakan adalah sama seperti pembiayaan bai’u bithaman ajil, hanya saja prosas pengembaliannya dibayarkan pada saat jatuh tempo.

3) Pembiayaan mudharabah (MDA). Pembiayaan dengan akad syirkah adalah suatu perjanjian pembiayaan antara BMT dan anggota dimana BMT menyediakan dana untuk penyediaan modal kerja sedangkan peminjam berupaya mengelola dana tersebut untuk pengembangan usahanya. Jenis usaha yang menmungkinkan diberikann pembiayaan adalah usaha-usaha kecil yang tidak menyimpang dari syariah.

4) Pembiayaan Musyarokah (MSA). Pembiayaan dengan akad syirkah. Adalah penyertaan BMT sebagai pemilik modal dalam suatu usaha yang mana antara resiko dan keuntungan ditanggung bersama secara berimbang dengan porsi penyertaan.

5) Pembiayaan Al-Qordhul Hasan. Pembiayaan dengan akad Ibadah. Adalah akad perjanjian pembiayaan antara BMT dengan anggotanya. Hanya anggota yang dianggap layak yang dpat diberi pinjaman ini. Kegiatan yang dimungkinkan untuk diberikan pembiayaan ini adalah anggota yang terdesak dalam melakukan kewajiban-kewajibannya non usaha atau pengusaha yang menginginkan ussahanya bangkit kembali yang oleh karena ketidakmampuannya untuk melunasi kewajiban usahanya.

G. Prospek dan Kendala BMT

Prospek BMT sangat bagus, meskipun sama-sama menjalankan fungsi intermediasi dan masa pertumbuhan yang berbarengan, produk yang ditawarkan BMT lebih inovatif dan variatif dibanding Bank Syariah.

Dalam perkembangan BMT tentunya tidak lepas dari berbagai kendala. Adapun kendalanya antara lain:

a. Akumulasi kebutuhan dana masyarakat belum bias dipenuhi BMT

b. Adanya rentenir yang memberikan dana yang memadai dan pelayanan yang baik disbanding BMT

c. Nasabah bermasalah

d. Persaingan tidak Islami antar BMT

e. Pengarahan pengelola pada orientasi bisnis terlalu dominan sehingga mengikis sedikit rasa idealis

f. Ketimpangan fungsi utama BMT, antara baitul maal dan baitutamwil

g. SDM kurang

PENUTUP

Dari pemaparan tersebut dapatlah ditarik suatu kesimpulan yang menyeluruh bahwa secara umum BMT dipahami sebagai financial intermediary institution atau lembaga perantara keuangan dari dua pihak yaitu pihak yang kelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana. Disamping itu BMT merupakan organisasi bisnis yang juga berperan sebagai sosial, sebagai lembaga sosial, Baitul maal memiliki kesamaan fungsi dan peran dengan lembaga amil zakat (LAZ) atau Badan Amil Zakat milik pemerintah. Sebagai lembaga bisnis, BMT memfokuskan kegiatan usahanya pada sector keuangan, yakni simpan-pinjam dengan pola syariah. Usaha ini seperti usaha perbankan yakni menghimpun dana dari anggota masyarakat dan menyalurkan pada sektor ekonomi yang halal dan menguntungkan.

Perbedaannya dengan perbankan terletak pada obyek dana, jika bank dapat menarik dana dari masyarakat tanpa syarat, sedangkan BMT hanya boleh menarik dana dari masyarakat dengan syarat menjadi anggota atau calaon anggota. Namun demikian terbuka luas bagi BMT untuk mengambangkan lahan bisnisnya pada sector riil maupun sector keuangan lainnya, yang dilarang dilakukan oleh lembaga keuangan Bank, karena BMT bukan bank, maka ia tidak tunduk pada aturan perbankan.

Dalam perjalanan kegiatannya BMT pasti tidak lepas dari yang namanya hambatan atau problematika. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengatasi problematika ekonomi yang ada di BMT saat ini diantaranya:

· Optimalisasi SDM yang ada di BMT

· Strategi pemasaran yang lebih meluas

· Inovasi produk sesuai kebutuhan masyarakat

· Pengembangan asset

· Fungsi Partner BMT harus digalakan bukan menjadi lawan

· Evaluasi brsama BMT

DAFTAR ISI

Afandi Yazid.2009.”Fiqh Muamalah”.Yogyakarta:Logung Printika

Firdaus,Muhammad dkk.2005.”Cara Mudah Memahami Akad-akad Syariah”.Jakarta:Renaisan

Hand Book. 2010.”Forsei Basic Education” Universitas Islam Negeri Suanan Kalijaga Yogyakarta

Muhammad.2000.”Lembaga-lembaga Keuangan Umat Kontemporer”.Yogyakarta: UII Press

Ridwan Muhammad.2006.”Sistem dan Prosedur Pendirian BMT”.Yogyakarta: Citra Media

Susilo,Fauronia.2007.”Mengerakan Ekonomi Syariah dari Pesantren”.Yogyakarta: FP3Y